FSI dalam Muhasabah: Kajian Kebangsaan "Memajukan Kesejahteraan Bangsa" (Sejarah, Pera, dan Visi Kebangsaan Muhammadiyah)

Fakultas Studi Islam Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) sukses menyelenggarakan Kajian Kebangsaan bertajuk “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” pada 1 Desember 2025. Acara yang digelar di Gedung Pascasarjana UMRI ini dipandu secara apik oleh Dr. Marabona Munthe, M.Esy sebagai moderator, yang menghadirkan sejumlah tokoh kunci, baik dari internal Muhammadiyah maupun perwakilan dari Nahdlatul Ulama (NU), mencerminkan semangat kolaborasi dua organisasi masyarakat terbesar di Indonesia.

Keynote speech disampaikan oleh Prof. Dr. H. Achmad Ubdedillah, M.A., Duta Besar Indonesia untuk Brunei Darussalam, yang memberikan perspektif diplomatik dan global tentang peran civil society dalam nation building. Kehadirannya menguatkan pesan bahwa membangun kesejahteraan bangsa adalah tanggung jawab bersama di semua lini. Moderator Dr. Marabona Munthe, M.Esy dengan cerdik mengawali diskusi dengan pertanyaan mendasar tentang tantangan aktual kebangsaan dalam konteks global.

Acara ini juga menjadi wadah simbolis terawatkannya jembatan ukhuwah antara Muhammadiyah dan NU. Hal ini ditandai dengan kehadiran dan penyampaian materi dari Ketua PW Muhammadiyah Riau, Dr. H. Hendri Sayuti, MA, bersanding dengan Ketua PW NU Riau, KH. Dr. R. Abd. Khalim Mahali, MPdI. Kolaborasi ini menegaskan bahwa meski memiliki sejarah dan metode berbeda, kedua organisasi memiliki visi yang sama: kemajuan dan kesejahteraan Indonesia. Dr. Marabona Munthe, M.Esy sebagai moderator memastikan diskusi berjalan dinamis, merangkum titik temu dari kedua tokoh tersebut.

Secara khusus, kajian ini mengangkat sejarah, peran, dan visi kebangsaan Muhammadiyah. Dr. Hendri Sayuti menegaskan bahwa sejak didirikan, Muhammadiyah telah aktif berkontribusi dalam pembangunan bangsa, tidak hanya melalui dakwah tauhid, tetapi juga melalui gerakan praktis di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat, yang pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan nasional.

Visi kebangsaan Muhammadiyah tersebut relevan dan diuji dalam konteks kekinian, khususnya menyikapi rentetan bencana alam yang kerap melanda wilayah Sumatera. Muhammadiyah, melalui Lembaga Penanggulangan Bencana (MDMC)-nya, telah mengambil peran aktif dalam tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana. Ini adalah implementasi nyata dari komitmen memajukan kesejahteraan bangsa, dengan meringankan penderitaan saudara sebangsa di daerah rawan bencana. Moderator Dr. Marabona Munthe, M.Esy mengarahkan sesi untuk melihat respon kebangsaan ini dalam kerangka sinergi, bukan kompetisi.

Tokoh masyarakat Riau, Hj. Azlaini Agus, dalam paparannya memberikan warna lokal dan mengaitkan diskusi dengan isu-isu aktual yang memerlukan peran serta ormas. Beliau menyoroti pentingnya kehadiran negara dan pengawasan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur, dengan menyebut contoh bandara ilegal di Morowali yang berpotensi menimbulkan masalah hukum, keamanan, dan lingkungan. Hj. Azlaini menegaskan, di sinilah Muhammadiyah dan NU secara berdampingan dapat berperan sebagai mitra kritis pemerintah, mengawal transparansi dan memastikan pembangunan berpihak pada kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan segelintir orang.

Lebih jauh, Hj. Azlaini juga mengangkat kompleksitas konflik sosial dan agraria, seperti kasus di Rempang, Kepri, dan dinamika di Kepulauan Natuna. Menurutnya, pendekatan represif tidak akan menyelesaikan masalah. Muhammadiyah dan NU, dengan jaringan pesantren, majelis taklim, dan tokoh agamanya di akar rumput, memiliki kredibilitas untuk menjadi mediator dan fasilitator dialog. Kolaborasi kedua ormas ini diharapkan dapat meredam ketegangan, menyuarakan aspirasi masyarakat secara damai, dan bersama-sama mencari solusi yang adil dan berkelanjutan. Dr. Marabona Munthe, M.Esy menguatkan poin ini dengan menanyakan bentuk konkret sinergi yang bisa segera dijalankan.

Secara fundamental, kontribusi Muhammadiyah dalam membangun fondasi kesejahteraan bangsa telah berlangsung puluhan tahun. Di bidang pendidikan, ribuan sekolah, pondok pesantren modern, dan perguruan tinggi seperti UMRI telah melahirkan generasi terdidik. Di bidang kesehatan, rumah sakit dan klinik Muhammadiyah-Aisyiyah memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Sementara di bidang ekonomi, koperasi dan Baitul Mal wat Tamwil (BMT) bergerak memberdayakan masyarakat akar rumput.

Fakultas Studi Islam UMRI, sebagai penyelenggara, menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai karakter dalam pendidikan tinggi. Pendidikan karakter yang integratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan akhlak mulia, kepekaan sosial, dan etika kebangsaan, dianggap kunci mencetak pemimpin yang tidak hanya cerdas tetapi juga berintegritas dan mampu menyelesaikan konflik secara bijak, sebagaimana dibutuhkan dalam kasus-kasus seperti Rempang dan Morowali. Sebagai akademisi, Dr. Marabona Munthe, M.Esy menyoroti bahwa forum seperti ini adalah bagian dari pendidikan karakter bagi civitas akademika.

Pendidikan karakter dan pemberdayaan ini juga harus menjadi prioritas di daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T). Sinergi Muhammadiyah dan NU dapat diperkuat melalui program pengabdian masyarakat, pendirian sekolah/pesantren bersama, atau klinik kesehatan keliling di wilayah 3T dan kepulauan terluar. Tujuannya adalah membangun karakter kemandirian, ketahanan, dan persaudaraan sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan meredam kerentanan konflik.

Dengan semangat “Berdamai dalam Muhasabah” yang dipandu secara harmonis oleh Dr. Marabona Munthe, M.Esy, Kajian Kebangsaan ini telah menjadi pengingat bahwa perbedaan adalah rahmat untuk bersinergi. Kolaborasi erat Muhammadiyah dan NU—dengan Muhammadiyah memberikan warna melalui gerakan amal usaha yang terstruktur dan NU melalui kearifan budaya dan jaringan pesantrennya—merupakan pilar penting dalam memajukan kesejahteraan bangsa. Sinergi ini bukan hanya untuk tanggap bencana alam, tetapi juga untuk “menanggulangi bencana sosial”, mengawal pembangunan yang berkeadilan, dan membangun karakter generasi penerus yang unggul, peduli, dan cinta tanah air.